BELAJAR DARI BAHTERA KEHIDUPAN

Kalau saja orang bilang ketika kita mengawali membangun rumah tangga melalui pernikahan, kita seperti memasuki bahtera rumah tangga menuju pantai nan bahagia. Dan ketika bahtera itu sudah melintasi 33 tahun pengembaraannya, tentu banyak yang ingin dilihat ulang… ya menoleh sebentar ke belakang.          Ada apa gerangan ?

Kalau baru mengawali dan masih segar segalanya seperti sangat indah, indah dan indah sekali. Hari-hari bertebaran madu yang manis, semanis-manisnya. Tiada hari tanpa sukacita dan canda-ria, amboi !     Tetapi pada saat hari berganti minggu dan selanjutnya bulan berganti tahun; ketika segala-galanya mulai bertambah dan bertambah: mungkin harta-benda, mungkin utang-piutang, boleh juga manusianya atau hewan peliharaan atau rumput dan sampah. Boleh jadi kerabat dan teman dengan segala sesuatu yang terus bertambah akan membawa perubahan yang beda dan membuat suasana yang beda juga, sehingga keadaan yang semula terasa sejuk, adem dan statis……. akan berubah menjadi panas, dinamis dan bergejolak. Tetapi begitulah kenyataan kehidupan ini, karena secara perlahan perubahan pasti akan terjadi, hanya saja menyikapi perubahan itu yang harus dapat ditata dengan sebaik-baiknya.

Ternyata dalam kehidupan ini ketika kita harus konsisten dengan konsep juang yang telah kita tekuni selama ini, masih ada konsep-konsep itu yang harus diperbaharui, dimodifikasi ulang agar padan dan sesuai dengan pasangan hidup kita. Hanya dengan demikian perbenturan konsep tidak menimbulkan retak yang parah, atau perpecahan yang menghanguskan; karena melalui jalinan kerja-sama yang padu dan padan akan melahirkan konsep juang yang lebih indah dan sinkron dengan kebutuhan hidup yang sebenarnya dan yang memang benar-benar diperlukan. Terlebih lagi tantangan kehidupan itu sendiri tidaklah semudah dan segampang bertutur dan berucap tetapi menghayati dan mengarunginya yang akan memerlukan ketrampilan hidup. Sedikit banyaknya latar belakang masing-masing pasangan ikut memberi warna-warni dalam setiap langkah dan denyut kehidupan itu sendiri.

Hari-hari akan terasa indah jika secara bersama-sama dapat melakukan setiap pekerjaan dalam kebersamaan, mungkin saja dalam pemikiran jika mungkin dilanjutkan dengan tindakan dan bekerja sama dalam menyelesaikannya. Walaupun hal ini tidak dapat senantiasa dilakukan, tetapi menciptakan saat kebersamaan dalam pikir, tutur dan tindakan harus terus menerus dipikirkan, dipersiapkan dan dijalani. Sampai keruang-lingkup ibadah.

Ibadah terkadang hanya difokuskan pada saat berada di tempat ibadah; atau tempat khusus lainnya dimana sedang berlangsung ibadah. Tetapi pada kenyataannya bahwa segala sesuatu yang kita ingin orang lain boleh melakukannya untuk kita dan kita dapat melakukannya bagi orang lain, itulah ibadah yang sejati. Sehingga doa yang kita kumandangkan harus dinampakkan dalam perangai dan perbuatan keseharian kita. Mungkin hari ini kita perlu berbagi rasa dengan pasangan hidup kita, tentang sesuatu yang belum pernah kita lakukan bersama atau kita telah melupakan betapa pentingnya menghidupkan kembali jalinan silaturakhmi yang telah lama tenggelam. Agar jalinan tangan kehidupan terus mengalir hangat dalam sapa dan senyum yang juga perlu terus ditebar sepanjang hari bersama pasangan, handai-taulan, sahabat dan keluarga kita. Hanya dengan demikian semangat juang akan terus membara mengobarkan semangat kebangkitan yang merdeka.          

Menjalankan perintah TUHAN, setiap hari adalah amanah yang harus dijalankan selama hayat dikandung badan. Dan ikut serta dalam berbagai kegiatan di tempat ibadah juga merupakan kewajiban yang tidak harus ditunda terus. Kehadiran dan keikutsertaan kita adalah bukti dari bakti kita kepada Yang Maha Esa.

Sehingga keseimbangan dalam kerja yang dapat memenuhi hajat-hidup dengan kerja dan doa sebagai perwujudan ibadah harus terus terpelihara dalam keseimbangan dan kebersamaan. Karena dengan demikian akan menjadi pola hidup yang terpola menjadi lebih sehat lahir dan batin. Dan jika hal itu terwujud maka kita akan semakin trampil bekerja dalam mendharma-baktikan pengabdian kita bagi kepentingan banyak orang, sehingga hidup kita tidak akan sia-sia. Moga semakin bermakna dan berarti bagi kita semua.

2 Balasan ke BELAJAR DARI BAHTERA KEHIDUPAN

  1. Bessy Salassa mengatakan:

    Tak terasa kayuhan langkah berpasangan sudah sampai di angka kembar. Tak main-main… sudah 33 tahun. Ketika cinta menyatukan insan dalam kekudusan berkat Allah… Ketika duka dan suka dihadapi bergandengan tangan… Ketika hujan dan cuaca cerah dinikmati bersama… Ketika cinta dianugrahi 3 putri tersayang… Ketika ditambah 2 anak menantu yang didamba… Pun ketika dua pasang kaki mungil berlarian di rumah yang nyaman… dua orang cucu yang menyempurnakan 33 tahun kembara berdua…

    Ini hari milik berdua…
    Untuk mengenang kembali hati yang bertautan.
    Untuk mengingat kembali cinta yang mula-mula menjadi kasih sayang selamanya…
    Untuk kembali bersyukur kepada Sang Bapa…
    Bahwa Dia beri orang yang tepat sebagai teman hidup
    Bahwa Dia anugerahi anak-anak yang berusaha untuk baik
    Bahwa Dia tambahkan anak lelaku sebagai mantu
    Bahwa Dia senangkan dengan cucu-cucu yang lucu dan cerdas
    Bahwa Dia kasih kesempatan untuk mengabdi dalam kerja dan pelayananan
    Bahwa Dia karuniakan kesehatan, kekuatan, akal-budi, hikmad dan kebijaksanaan disepanjang kembara berdua.

    • bernardsalassa mengatakan:

      Terima kasih ya BE, ini essay yang sangat luar biasa dipersembahkan 2 tahun yang lalu – tetapi tetap membekas sepanjang hayat dikandung badan……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: