Budaya Baca & Mutu Pendidikan

Entah mengapa budaya baca semakin sering ditinggalkan dan terlupakan tetapi gambar hidup dilayar kaca semakin tinggi peringkat para peminatnya, sementara jumlah buku yang terbaca semakin berkurang. Terlebih bila dibandingkan dengan jumlah penduduk terhadap penerbitan buku setiap tahun di Indonesia untuk dibandingkan dengan negara lain seperti Cina, Amerika, Jepang dan Singapura. Malu rasanya kalau tahu berapa buku baru yang terbit setiap tahun di negara-negara tersebut dibandingkan dengan negeri sendiri. Itu karena kurangnya tumbuh minat baca dikalangan anak negeri. Sementara kualitas pendidikan dan pendidikan yang berkualitas dapat lebih semarak dan punya nilai lebih kalau segenap anak negeri ini rajin dan tekun membaca; dengan kata lain: gemar membaca.

Sebab kualitas pendidikan dan pendidikan yang bermutu bukan hanya berdasarkan perolehan atau hasil dari “angka kelulusan” atau “nilai ujian nasional”, tetapi yang paling utama adalah kemampuan membaca dan cara memanfaatkan buku itu sendiri oleh setiap pengguna buku. Ketidak mampuan meningkatkan kualitas pembelajaran sering terkendala oleh keterbatasan buku dan ketidak mampuan membaca buku. Keterbatasan teks utama dan penunjang serta literatur pendukung akan ikut mewarnai kualitas pembelajaran; itu semua orang tahu. Tetapi upaya untuk mengadakannya bagi setiap institusi pendidikan, itu yang sangat memperihatinkan. Sehingga diperlukan keseriusan semua pihak untuk dapat menyediakan buku yang cukup bagi dunia pendidikan yang maha luas ini.

Sebab dengan demikian kehidupan keluarga akan menjadi lebih berkualitas jika buku menjadi konsumsi utamanya; seisi rumah akan menjadi lebih berkualitas jika semuanya gemar membaca. Sebab budaya membaca itu lahir dari rumah-tangga yang orang didalamnya punya kebiasaan membaca yang tumbuh dengan subur.  Sehingga tidak dapat dipungkiri jika anak-anak cerdas yang sering menang dalam berbagai lomba baik ditingkat desa atau internasional, selalu datang dari wilayah yang budaya membacanya baik.

Pola pembelajaran hanya dengan menekankan unsur menghafal dalam memberi penilaian, perlu ditinjau ulang. Apabila budaya membaca dapat diperbaiki. Karena dengan banyak membaca secara individual anak menjadi lebih kritis dalam berpikir, dapat bereksperimen, berani mengemukakan pendapat dan bertanya, menolak atau menerima sesuatu dengan argumen yang jelas-tegas menyenangkan dan cerdas. Dari membaca banyak hal akan tumbuh subur seperti mengembangkan daya-pikir dan imajinasi yang pada saatnya juga dapat menumbuhkan kretivitas.

Bangsa yang besar dan berkualitas boleh jadi harus menghargai para pahlawan pendahulunya, tetapi agar menjadi bangsa yang besar berkualitas dan bermartabat perlu perjuangan yang terus-menerus dimana buku yang dilahirkan oleh para pahlawan pemikir yang cerdas, tetap dan harus menjadi pohon penunjang utama perjuangan meningkatkan mutu pendidikan bangsa dengan mencerdaskan seluruh bangsa ini serta menumbuhkan pendidikan yang berkualitas.

Karena jikalau ingin cerdas berkualitas dan bermartabat harus rajin dan gemar membaca !

6 Balasan ke Budaya Baca & Mutu Pendidikan

  1. budi mengatakan:

    kompetensi kebahasaanpun jarang dikuasai oleh guru secara maksimal. aDapun yang saya maksud dengan kompetensi kebahasaan adalah berbicara, membaca, menulis, menyimak. contohnya saya, kalau disuruh berbicara di warung, pintarnya seperti komentator di TV, kalau disuruh bicara di depan kelas, habislah waktu 2 jam untuk berbicara “ngalor-ngidul” tanpa peduli respon siswa dan tujuan bicara tadi apa. Kalau disuruh bicara sebagai pemrasaran, wah nanti dulu.
    kalau ditanya tentang membaca, “bacaan apa yang telah dibaca pekan ini guna menambah wawasan dan bahan belajar bagi anak”, maka saya akan gelagapan. Karena saya gak pernah membaca bacaan yang berkualitas dan berkaitan dengan profesi saya. Paling-paling koran kelas gosip, bukan koran nasional yang berbobot
    Kalau ditanya masalah menulis, “tulisan apa yg telah dihasilkan selama 17 tahun menjadi guru?” maka jawab saya hanya gigit jari. Bukan hanya itu, bahkan saya berani menyalahkan pemerintah yang mewajibkan untuk naik ke IV.b harus bisa menulis. Guru macam apa saya ini? sudah sarjana, 17 tahun mengajar disuruh menulis kok tidak bisa.
    Apalagi kalau pertanyaan tentang menyimak, misalnya “Apa hasil pelatihan, workshop, MGMP, bintek yang Anda ikuti?” saya paling-paling hanya menjawab, wah kemarin gak ada yang penting, sama saja dengan dulu-dulu cuma diganti sampulnya, saya sakit perut waktu itu, materinya lupa saya mengopi. Pokoknya banyaklah alasan saya untuk menutupi kemampuan menyimak saya.
    Lantas… bagaimana Barito Timur kalau guru-gurunya saja banyak yang seperti saya?
    Apa yang kita harap dari peserta didik kalau gurunya yang ngaku profesional hanya menuntut upah? bukan unjuk kerja.

  2. BERNARD SALASSA mengatakan:

    Asyiiik, lucu dan cerdas komentarnya, terima kasih

  3. syaiful mengatakan:

    salam kenal dari saya. dilihat dari blog anda saya tidak salah menebak anda seorang guru ya. blognya bagus. saya baru belajar buat blog. saya juga guru. jangan lupa kunjung balik ya.
    anda dapat mengunjungi blog saya yang lain di
    http://syaiful-pbb.blogspot.com

  4. di2kariadi mengatakan:

    hehehee…….. ini dia masalahnya pak….
    Buku dianggap barang mahal ketimbang Pulsa….
    Buku tidak penting ketimbang beli Bakso…
    Buku dianggap untuk konsumsi kalangan atas dan terpelajar…
    Buku dianggap tidak lebih keren dari fashion….

    omong kosong yang benar-benar kosong kalau ada niatan dari pemerintah (lebih tepatnya Oknum pemerintah) yang ingin meningkatkan budaya membaca di masyarakat…. Buku umum diluar buku pelajaran masih kena PPH 10%, Anggaran Pengadaan Buku baik di Dinas, Perpustakaan daerah/umum, uangnya lebih dari 30% hilang entah kemana…..bayangkan kalau Perpustakaan Umum ada anggaran 100 juta untuk pengadaan buku…tiba-tiba 30 juta nya menguap dan hilang ditelan kantong…(mesti melalui CV/kontraktor/atau lainya…)berapa eksemplar buku dari anggaran 30juta yang hilang? kalau asumsinya buku yang tipis (100-200 hal) dan berkualiatas seharga Rp. 30.000,- berarti ada 1000 eks buku yang turut menghilang….sekitar 10 kardus besar pak… luar biasa banyak bukan…. tapi dimana-mana… ini menjadi rahasia umum pak…. rahasia umum proyek pengadaan…. wkkkkkkk…… LANJUT>>>>>>>>>>
    (kalau ada proyek pengadaan buku… bapak bisa hubungi saya pak…)

  5. hamdan mengatakan:

    Salam kenal dulu dari saya Pak.
    Di sekolah kami Pak,
    berlangganan koran itu sudah sejak lama, tetapi sangatlah jarang disentuh (dibaca oleh bapak ibu guru terutama saya), ini karena alasan kesibukan.
    Sebenarnya untuk meningkatkan budaya baca terutama bagi saya… ya… tentunya membaca jenis bacaan ringan dalam hal ini termasuk koran atau surat kabar.
    kalau buku jenis pengetahuan ya…, bagaimana ya…?
    saya hanya memandang realitasnya saja, bahwa siswa diwajibkan jadi anggota perpustakaan dan berkunjung, bahkan membaca buku-buku di perpustakaan. Tapi perpustakaan seakan suatu hal yang membuat guru alergi, kenapa? Jarang sekali saya melihat ada guru cari buku, baca, bahkan pinjam buku di perpustakaan.
    Seharusnya, untuk mutu pendidikan diawali dengan gurunya yang rajin membaca (meningkatkan budaya baca) baru menyusul anak, karena guru bisa menceritakan tentang ini, itu kepada siswa. Lantas kalau siswa ingin jelas dan mengetahui semuanya, tiada lain disuruh datang ke perpustakaan, iya kan?
    Semoga budaya baca guru lebih dahulu tercipta dari siswanya.

  6. kocir mengatakan:

    membaca yang selektif dan kritis itu yang diperlukan meskipun membaca itu bukan dari suatu hobby. sesibuk atau terbatasnya waktu untuk meluangkan waktu untuk membaca, cobalah mengusahakannya untuk ada.better than nothing kan? sekarang sumber bacaan itu sudah tak terbatas pada buku, majalah atau media cetak yang lain. lewat media elektronik pun, bisa dijangkau, nih contohnya blog ini😀.Jadi,minat baca itu( menurut saya ni) menunjukkan dari habitual of life atau personality seseorang atau bagaimana memprioritaskan sesuatu..tuh kata teman di atas mending beli hp baru dr pada beli buku.wah,membaca kalah oleh gadget nih. punya hp harga 5 jt an,tapi miskin wawasan gimana?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: